Transformasi Stigma Menjadi Sejarah: Eldio Rambi dan Pengangkatan Identitas Minahasa

Di era di mana konten digital lebih banyak mengedepankan hiburan, Eldio Rambi mengambil langkah yang berbeda dengan membawakan sejarah dan identitas Sulawesi Utara, terutama Minahasa, ke publik. Melalui pendekatan yang lebih reflektif, ia berusaha memberikan gambaran yang lebih dalam tentang jati diri daerahnya.
Awal Perjalanan Eldio Rambi
Asal Manado, Eldio memulai karirnya sebagai kreator konten sejarah dengan latar belakang pengalaman pribadi yang kuat. Pengalaman tersebut, yang berakar dari pengalamannya selama menempuh pendidikan di Jakarta, menginspirasi dia untuk mengeksplorasi lebih dalam tentang identitas Minahasa.
Pengalaman Akademik yang Mendorong Refleksi
Pada tahun 2013, saat berkuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta, Eldio tidak mendapatkan pengalaman akademik yang inklusif. Sebaliknya, ia menghadapi berbagai stereotip negatif yang merendahkan, yang membentuk pandangannya terhadap identitasnya.
Salah satu dosen pernah menyatakan bahwa orang Manado identik dengan “3B: bubur, Bunaken, dan bibir Manado.” Pernyataan tersebut, menurut Eldio, mengandung stigma yang keliru dan berkonotasi negatif terhadap budaya Minahasa.
Transformasi Pengalaman Menjadi Motivasi
Alih-alih merasa putus asa, pengalaman tersebut justru memicu rasa ingin tahunya. Eldio mulai mempertanyakan bagaimana identitas Minahasa dipersepsikan di luar wilayahnya, serta mengapa seringkali narasi yang muncul bersifat bias dan merendahkan.
Motivasi ini semakin menguat ketika ia menghadiri sebuah pernikahan yang diadakan dengan adat dari etnis lain di Indonesia. Dalam momen tersebut, tamu asal Minahasa dilarang duduk di poade, panggung kehormatan bagi mempelai. Pengalaman ini semakin mempertegas adanya sekat-sekat kultural yang menyentuh dirinya secara langsung.
Aktivisme dan Komitmen Terhadap Budaya
Kembali ke Manado, Eldio mulai terlibat dalam berbagai organisasi masyarakat (ormas) dan LSM yang fokus pada pelestarian adat Minahasa. Di sini, ia mendalami nilai-nilai tradisional, sejarah, serta dinamika sosial budaya yang membentuk identitas masyarakatnya.
Awal Karir Sebagai Kreator Konten
Langkah Eldio dalam dunia konten digital dimulai secara tak terduga. Pada tahun 2025, ia mengunggah sebuah foto bersejarah di media sosial, yang menjadi viral dan menarik perhatian publik. Respons positif yang diterimanya membuka peluang baru sekaligus tanggung jawab yang lebih besar.
Ia pun meluncurkan kanal bernama Eldio Rambi Story, yang secara konsisten menampilkan konten sejarah, dokumentasi foto, hingga perjalanan ziarah ke situs-situs bersejarah, termasuk kawasan Kepulauan Sangihe.
Keseharian dan Semangat Mengangkat Sejarah
Di luar aktivitas digitalnya, Eldio menjalani hidup sebagai wiraswasta dan kadang-kadang berkebun. Namun, semangatnya untuk mengangkat sejarah tak pernah surut. Ia menemukan bahwa konten sejarah memiliki daya tarik tersendiri, terutama ketika disajikan dengan cara yang emosional dan relevan.
Konten Bersejarah yang Menggugah Emosi
Salah satu topik yang paling mengesankan baginya adalah sejarah PERMESTA. Menurut Eldio, topik ini selalu berhasil memicu diskusi yang hangat di kolom komentar. “Narasi itu sangat bergantung pada sudut pandang. Cara kita mengelola emosi pemirsa sangat mempengaruhi tanggapan mereka,” ujarnya.
Tujuan Membuat Konten Sejarah
Bagi Eldio, menciptakan konten bukan sekadar mencari popularitas, tetapi juga membangun kesadaran. Ia berkeinginan agar generasi muda Minahasa dan Sulawesi Utara pada umumnya tidak kehilangan akar sejarah mereka di tengah arus globalisasi yang kian kuat.
Dengan tindakan yang dilakukannya saat ini, ia berkontribusi dalam gerakan kecil namun berarti: menjaga identitas melalui medium digital.
Membangun Kesadaran Melalui Konten Digital
Dengan kreativitas dan ketekunan, Eldio Rambi menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya bisa hadir dalam format buku yang tebal, tetapi juga dapat hidup dalam layar gawai. Konten-konten ini menjangkau lebih banyak orang dan membangkitkan rasa bangga terhadap budaya sendiri.
Harapan untuk Masa Depan
Ke depannya, upaya seperti ini diharapkan tidak hanya berhenti pada individu, tetapi juga menjadi inspirasi kolektif. Menjaga budaya bukan sekadar nostalgia, melainkan investasi untuk masa depan agar warisan Minahasa tetap hidup, dikenal, dan dihargai hingga ke tingkat nasional dan internasional.
